Senin, 15 April 2013

LOGOTERAPI



Dina Fenisha Azmi
3PA02
19510120
Psikoterapi


Teori dan terapi Viktor Frankl lahir dari pengalamannya selama menjadi tawanan di kamp konsentrasi Nazi. Di sana, ia menyaksikan banyak orang yang mampu bertahan hidup atau mati di tengah siksaan. Hingga akhirnya dia menganggap bahwa mereka yang tetap berharap bisa bersatu dengan orang-orang yang dicintai, punya urusan yang harus diselesaikan di masa depan, punya keyakinan kuat, memiliki kesempatan lebih banyak daripada yang kehilangan harapan.

Frankl menamakan terapinya dengan logoterapi, dari kata Yunani, “logos”, yang berarti pelajaran, kata, ruh, Tuhan atau makna. Frankl menekankan pada makna sebagai pegertian logos. Bila Freud dan Addler menekankan pada kehendak pada kesenangan sebagai sumber dorongan. Maka, Frankl menekankan kehendak untuk makna sebagai sumber utama motivasi.
Selain itu, Frankl juga menggunakan noös yang berarti jiwa/pikiran. Bila psikoanalisis terfokus pada psikodinamik, yakni manusia dianggap berusaha mengatasi dan mengurangi ketegangan psikologis. Namun, Frankl menyatakan seharusnya lebih mementingkan noödinamik, yaitu ketegangan menjadi unsur penting bagi keseimbangan dan kesehatan jiwa. Bagaimana pun, orang menginginkan adanya ketegangan ketika mereka berusaha mencapai tujuan.

Kerangka berpikir teori kepribadian model logoterapi dan dinamika kepribadiannya dapat digambarkan sebagai berikut.
Pertama, setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam pandangan logoterapi, kebahagiaan itu tidak datang begitu saja, tetapi merupakan akibat sampingan dari keberhasilan seseorang memenuhi keinginannya untuk hidup bermakna (the will to meaning). Mereka yang berhasil memenuhinya akan mengalami hidup yang bermakna (meaningful life) dan ganjaran (reward) dari hidup yang bermakna adalah kebahagiaan (happiness).

Kedua, jika mereka yang tak berhasil memenuhi motivasi ini akan mengalami kekecewaan dan kehampaan hidup serta merasakan hidupnya tidak bermakna (meaningless). Kondisi ini apabila tidak teratasi dapat mengakibatkan gangguan neurosis (noogenik neurosis), mengembangkan karakter totaliter (totalitarianism) dan konformis (conformism).

Ketiga, Frankl menentang pendirian dalam psikologi dan psikoterapi bahwa manusia ditentukan oleh kondisi biologis, konflik-konflik masa kanak-kanak, atau kekuatan lain dari luar. Ia berpendapat bahwa kebebasan manusia merupakan kebebasan yang berada dalam batas-batas tertentu. Manusia dianggap sebagai makhluk yang memiliki berbagai potensi luar biasa, tetapi sekaligus memiliki keterbatasan dalam aspek ragawi, aspek kejiwaan, aspek sosial budaya dan aspek kerohanian.

Keempat, kebebasan manusia bukan merupakan kebebasan dari (freedom from) bawaan biologis, kondisi psikososial dan kesejarahannya, melainkan kebebasan untuk menentukan sikap (freedom to take a stand) secara sadar dan menerima tanggung jawab terhadap kondisi-kondisi tersebut, baik kondisi lingkungan maupun kondisi diri sendiri. Dengan demikian, kebebasan yang dimaksud Frankl bukanlah lari dari persoalan yang sebenarnya harus dihadapi.

Kelima, dalam berperilaku, manusia berusaha mengarahkan dirinya sendiri pada sesuatu yang ingin dicapainya, yaitu makna. Keinginan akan makna inilah yang mendorong setiap manusia untuk melakukan berbagai kegiatan agar hidupnya dirasakan berarti dan berharga. Namun, Frankl tidak sependapat dengan prinsip determinisme dan berkeyakinan bahwa manusia dalam berperilaku terdorong mengurangi ketegangan agar memperoleh keseimbangan dan mengarahkan dirinya sendiri menuju tujuan tertentu yang layak bagi dirinya.

sumber
http://www.psikologizone.com/victor-emil-frankl-dan-logoterapi-2/065112054

Minggu, 07 April 2013

Person Centered Therapy



Dina Fenisha Azmi
3PA02
19510120
Psikoterapi

Person Centered Therapy
Tokoh : Carl Rogers
“ manusia pada dasarnya dapat dipercaya, mereka memiliki kemampuan untuk memahami diri mereka sendiri dan mereka mampu memecahkan problemnya sendiri tanpa intervensi langsung dari terapis dan mereka memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang menuju dirinya sendiri jika mereka terlibat dalam hubungan terapeutik ”

Karaketristik Terapi Person Centered Therapy

  1. Fokus terhadap responsibilitas dan kapasitas untuk meenemukan cara yang lebih bermakna dalam menghadapi realitas. 
  2. Sebuah hubungan dengan konselor yang bersifat kongruen, menerima dan empatik dalam rangkamenciptakan kondisi terpeutik bagi perubahan klien.
  3. Terapi person centered bukan merupakan sebuah set teknik terpai atau dogma 
  4. Menekankan pada kekuatan inner individu dan dampak revolusioner dari kekuatan tersebut.

Tujuan Terapeutik
Rogers (1997)

  1. Tujuan terpai bukan untuk memecahkan problem tetapi membantu proses pertumbuhan klien sehingga mereka bisa mengatasi problem saat ini ataupun masa depan 
  2. Menciptakan suatu iklim yang kondusif untuk membantu individu menjadi orang yang berfungsi penuh
Rogers mendeskripsikan orang yang dapat meningkatkan aktualisasi diri
  • Oppeness to experience 
  • Trust in one’s organism
  • An internal locus of evaluation 
  • Willingness to be a proccess
Fungsi dan Peran Terapis
  1. Sikap terapis lebih penting daripada pengetahuan, teori ataupun teknik yang dimilikinya 
  2. Terapis berfungsi untuk menciptakan iklim yang memfasilitasi pertumbuhan klien sebagai proses yang    berkelanjutan 
  3. Menciptakan hubungan yang memberikan kebebasan klien untuk bereksplorasi di dalam dirinya 
  4. Terapis harus terlibat sedara nyata dalam hubungan dengan klien

Hubungan Terapis dengan Klien
Ada 3 karakteristik personal dalam hubungan terapeutik
  1. Kongruen atau genuine
  2. Unconditional positive regard dan penerimaan 
  3. Mampu berempati secara akurat


sumber : modul universitas mercu buana

Minggu, 31 Maret 2013

Terapi Eksistensial



Dina Fenisha Azmi
3PA02
19510120


Terapi Eksistensial


Dasar dari terapi Humanistik adalah penekanan keunikan setiap individu serta memusatkan perhatian pada kecenderungan alami dalam pertumbuhan perwujudan dirinya. Dalam terapi ini para ahli tidak mencoba menafsirkan perilaku penderita, tetapi bertujuan untuk memperlancar kajian pikiran dan perasaan seseorang dan membantunya memecahkan masalahnya sendiri.
Dalam terapi eksistensial, klien berjalan melalui berbagai pengalaman. Awalnya, mereka berharap terapis untuk menempatkan mereka dalam hubungan yang otentik. Hubungan ini membentuk dasar untuk penyembuhan dan pertumbuhan. Jadi, dalam hubungan ini, di mana konsumen melintasi batas-batas yang ditetapkan, terapis memastikan bahwa ada keterbatasan yang tepat dan batas-batas dengan konsumen. Para terapis juga memainkan peran membantu konsumen untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam dan pembukaan hubungan mereka. Hal ini diikuti oleh proses-proses di mana konsumen diberikan kesadaran yang lebih dalam tentang diri mereka sendiri. Hal ini dikembangkan dengan membuat klien untuk mengeksplorasi karakter mereka sendiri, dan di hadapan bimbingan terapis s. Selanjutnya, terapis membantu pelanggan untuk membangun sebuah cara baru untuk mengeksplorasi dan memahami pengalaman mereka sendiri.


Memandang manusia dengan dimensi-dimensi dasar
a. kapasitas kesadaran diri
b. bebas dan bertanggung jawab
c. komitmen
d. kemampuan memilih dalam ketidakpastian
e. memiliki keunikan dan identitas
f. memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan berdasarkan dirinya sendiri
g. mencapai kebermaknaan, nilai-nilai, tujuan dan harapan
h. kecemasan
i. kesadaran akan kematian dan ketidakberartian
 
Penerapan Teknik dan Prosedur Terapeutik
Pendekatan eksistensial pada dasarnya tidak memiliki perangkat teknis yang siap pakai seperti kebanyakan pendekatan lainya. Pendekatan ini bisa menggunakan beberapa teknik dan konsep psikoanalitik, juga bisa menggunakan teknik kognitif-behavioral. Metode yang berasal dari Gestalt dan analis Transaksional pun sering digunakan. Akan tetapi pada intinya, teknik dari pendekatan ini adalah penggunaan kemampuan dari pribadi terapis itu sendiri.

Pada saat terapis menemukan keseluruhan dari diri klien, maka saat itulah proses terapeutik berada pada saat yang terbaik. Penemuan kreatifitas diri terapis muncul dari ikatan saling percaya dan kerjasama yang bermakna dari klien dan terapis.
Proses konseling oleh para eksistensial meliputi tiga tahap. Dalam tahap pendahuluan, konselor membantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima. Konselor mengajarkan mereka bercermin pada eksistensi mereka dan meneliti peran mereka dalam hal pencitpaan masalah dalam kehidupan mereka.
Pada tahap pertengahan, klien didorong agar bersemangat untuk lebih dalam meneliti sumber dan otoritas dari system mereka. Semangat ini akan memberikan klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.
Tahap Terakhir berfokus pada untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka. Klien didorong untuk mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang kongkrit. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani eksistensi kehidupanya yang memiliki tujuan. Dalam perspektif eksistensial, teknik sendiri dipandang alat untuk membuat klien sadar akan pilihan mereka, serta bertanggungjawab atas penggunaaan kebebasan pribadinya.

sumber
Riyanti,B.P. Dwi dan Hendro Prabowo.1998.Psikologi Umum 2. Jakarta:Universitas Gunadarma
http://www.psikologizone.com/konseling-terapi-pendekatan-eksistensial/06511676
modul mercubuana.ac.id
http://id.prmob.net/psikoterapi/irvin-d-yalom/eksistensialisme-1793492.html